makalah psikologi pendidikan teori belajar
MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Teori-Teori Belajar
Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Terstruktur Yang Diwajibkan
Dalam Mengikuti Perkuliahan PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu :
Dr. Mardianto, M.Pd.
Oleh Kelompok 4 :
1. Farah Safira Azhari (0310181022)
2. Isra Rizky Salsabila (0310183115)
3. M. Aulia Ramadhan (0310182050)
4. Novia Elyza Melinda (0310183138)
5. Santi Ariyani Rambe (0310182069)
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmannirrahim, puji syukur
kami ucapkan kepada Allah Subhanallahu Wa Ta’ala atas anugerah-Nya sehingga
saya dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Teori-Teori Belajar”.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini, selain untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pengajar, juga untuk lebih
memperluas pengetahuan para mahasiswa/i khususnya bagi penulis.
Penulis
telah berusaha untuk dapat menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun
penulispun menyadari bahwa saya memiliki akan adanya keterbatasan saya sebagai
manusia biasa. Oleh karena itu, jika didapati adanya kesalahan-kesalahan baik
dari segi tekhnik penulisan, maupun dari isi makalah itu sendiri, maka saya memohon
maaf dan menerima sumbangan kritik serta saran dari dosen pengajar dan semua
pembaca sangat diharapkan oleh saya untuk dapat menyempurnakan makalah ini
terlebih juga dalam pengetahuan kita bersama.
Medan, 12 April
2019
Tim
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar............................................................................................... 2
Daftar
Isi......................................................................................................... 3
Abstrak............................................................................................................ 4
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 5
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pendahuluan Teori Belajar...................................................................... 6
B.
Tiga Teori Belajar...................................................................................... 12
C.
Teori Belajar Untuk Pembelajaran......................................................... 15
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................................ 17
B.
Saran...........................................................................................................
Daftar
Pustaka................................................................................................ 18
ABSTRAK
Belajar
selalu didefinisikan sebagai salah satu perubahan pada diri seorang individu
yang disebabkan oleh pengalaman. Perubahan yang disebabkan oleh perkembangan
(seperti tumbuh menjadi
tinggi) adalah bukan contoh dari belajar. Belajar terjadi dengan banyak cara.
Terkadang belajar dapat kita sengaja, ketika kita memperoleh informasi dari
orang lain ataupun seorang guru. Dalam hal belajar ini kita harus mengetahui
apa itu teori belajar. Teori belajar itu dapat dipahami sebagai prinsip umum
atau kumpulan yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah
fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.
Kata kunci : Teori Belajar
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah
satu kewajiban penting dalam kehidupan manusia adalah belajar. Belajar itu
sendiri menegaskan secara nyata bahwa kegiatan mengetahui, mengenali, dan
memahami merupakan kata-kata kunci yang digunakan sebagai media untuk membuka
tabir-tabir ketidakmengertian terhadap segala hal. Dalam belajar, terbentang
keinginan dan kekuatan diri untuk bisa bergerak maju dan membuat
lompatan-lompatan pemikiran baru untuk bisa semakin peka terhadap sebuah
kenyataan baru.
Nah, dalam hal belajar ada yang namanya
seorang pengajar yaiu guru. Untuk mempermudah para guru dalam proses
pembelajaran, maka para ahli psikologi membuat yang namanya teori belajar.
Teori belajar inilah yang menjadi suatu landasan sebuah proses belajar yang dimana
menuntun terbntuknya kondisi belajar. Teori belajar ini dapat diartikan sebagai
integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi
tercapainya tujuan pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengantar Teori Belajar
Belajar
merupakan kegiatan yang sering dilakukan setiap orang. Belajar dilakukan hampir
setiap waktu, kapan saja, dimana saja, dan ketika sedang melakukan apa saja. Belajar juga merupakan aktivitas yang
dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan
atau pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi si Pelaku, baik perubahan pengetahuan,
sikap, maupun keterampilan.[1]
Dalam
hal belajar, ada yang namanya pengajar, yaitu seorang guru. Dalam pembelajaran
guru sangat berperan penting untuk mengarahkan siswa dalam proses pembelajaran
berlangsung. Untuk memudahkan para guru mengajar maka dibuatlah teori tentang
belajar oleh beberapa ilmuan atau ahli pada bidang psikologi. Lalu apa itu
teori belajar? Nah, teori belajar itu sendiri adalah suatu prinsip umum atau
suatu kumpulan yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah
fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.[2]
Secara
garis besar, teori belajar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pembagian
ini didasarkan atas pandangan belajar dalam mengenal manusia yaitu :
1. Pandangan yang menyatakan bahwa manusia adalah
organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus yang terdapat dalam
lingkungan.
Menurut
pandangan ini manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol.
Caranya adalah dengan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam
lingkungannya. Hukum-hukum yang berlaku bagi alam pada umumnya berlaku bagi
manusia. Pandangan seperti ini dikenal dengan Behavioristik, dengan ciri-cirinya
:
a. Mementingkan pengaruh lingkungan.
b. Mementingkan bagian-bagian.
c. Mementingkan peranan reaksi
d. Mengutamakan mekanime terbentuknya hasil belajar.
e. Mementingkan sebab-sebab di waktu yang lain.
f. Mementingkan pembentukan kebiasaan.
g. Dalam pemecahan masalah, ciri khasnya trial and
error.[3]
Teori-teori
yang termasuk Behavoiristik adalah :
a. Teori Belajar Koneksionisme
(Thorndike)
Pengaruh
pemikiran Thorndike dalam studi psikologi khususnya dalam psikologi belajar
sangat besar. Hampir setengah abad teorinya menguasai ahli teori belajar
lainnya. Hal ini ditujukan dengan adanya ahli yang setuju maupun yang tidak
setuju pada pendapatnya atau teorinya. Thorndike merupakan contoh dari seorang
teoritis yang karyanya dipandang mendominasi psikologi dan pendidikan pada
masanya.
Edward
Thorndike dilahirkan di Williamsburg, Massachusetts tahun 1874. Universitas Wesleyen
dan kemudian Universitas Harvard telah membentuk ide-ide Thorndike mengenal
psikologi.
Thorndike
telah mengemukakan hukum-hukum dalam teori belajarnya melalui eksperimen yang
longitudinal yakni setiap hasil eksperimennya yang terbaru digunakan untuk
mengoreksi hasil eksperimennya terdahulu. Perhatian utamanya terletak pada
situasi yang ada untuk mendapatkan respon-respon. Sedangkan individu khususnya
dalam hal motivasi diabadikan. Teori belajar Thorndike ini lebih cocok pada
pendidikan keterampilan dan pravokasional.
Menurut
Thorndike praktek pendidikan haru dipelajari secara ilmiah. Praktek pendidikan
harus dihubungkan dengan proses belajar. Menurutnya mengajar yang baik adalah
tahu apa yang hendak diajarkan, artinya tahu materi apa yang akan diberikan,
respon apa yang akan diharapkan dan kapan harus memberi hadiah serta pentingnya
tujuan pendidikan.
Ada
beberapa aturan yang dibuat oleh Thorndike berkenaan dengan pengajaran yaitu :
1. Perhatikan situasi murid.
2. Perhatikan respon apa yang diharapkan dari
situasi tersebut.
3. Ciptakan hubungan respon tersebut dengan sengaja,
jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya.
4. Situasi-situasi lain yang sama jangan diindahkan
sekiranya dapat memutuskan hubungan tersebut.
5. Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan
membuat hubungan-hubungan lain yang sejenis.
6. Buat hubungan tersebut sedemikian rupa sehingga
dapat perbuatan nyata.
7. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga
dapat digunakan dalam kehidupan shari-hari.
b. Teori Belajar Klasikal Kondisioning
(Ivan P. Pavlov)
Ivan
P. Pavlov lahir pada tahun 1849 di kot Rayasan Rusia. Ayahnya seorang pendeta
di daerah yang miskin. Pavlov mengadakan penelitian tentang dampak pengeluaran
getah lambung terhadap mekanisme penggunaa makanan dan skresi. Dari penelitian
dan karyanya dalam bidang teori belajar ia memperoleh hadiah nobel pada tahun
1904. Pavlov adalah seorang ilmuan yang membaktikan dirinya untuk penelitian. Ia
memandang ilmu pengetahuan sebagai sarana belajar tentang berbagai masalah
dunia dan masalah manusia. Peranan dari ilmuan menurutnya antara lain membuka
rahasia alam sehingga dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam. Di samping
itu, ilmuan juga harus mencoba bagaimana manusia itu belajar dan tidak bertanya
bagaimana mestinya manusia belajar.
Teori
belajar klasikal kondisioning mengaplikasikan pentingnya mengkondisi stimulasi
agar terjadi respon. Denga demikian pengontrolan dan perlakuan stimulus jauh
lebih penting dari pada pengontrolan respon.
Konsep ini mengisyaratkan bahwa proses belajar llasikal kondisioningebih
mengutamakan faktor lingkungan daripada motivasi internal.
Pandangan
Pavlov tentang belajar, ia mengutmakan perilaku dan perubahan tingkah laku
organisme melalui hubungan stimulus-respon. Dengan demikian, belajar hendaknya
mengkondisi stimulus agar bisa menimbulkan respon.
c. Teori Systematic Behavior (Clark L.
Hull)
Hull
adalah orang yang mempunai pengaruh besar terhadap psikologi belajar. Ia banyak
memberikan konsep-konsep belajar melalui hasih penelitiannya yang dilakukan
mulai tahun 1930-1950. Ia banyak mengikuti ide dari Pavlov dan Thorndike.
Pandangannya tidak hanya mengenai belajar tetapi juga mengenai tingkah laku
pada umumnya.
Hull
menyusun teorinya melalui pendekatan deduktif-hipotetik yaitu menekanklan pada
teori dan pemikiran berdasarkan hipotesa-hipotesa. Pengaplikasian teori Hull
dalam pendidikan adalah sama seperti teori-teori lainnya yang dapat
diaplikasikan dalam belajar. Misalnya, untuk menyusun kondisi yang optimal agar
siswa mudah belajar. Artinya menyusun suasana sedemikian rupa sehingga dapat
menolong orang untuk belajar.
d. Teori Belajar Descriptive Behaviorisme/Operant
Conditioning (BF. Skinner)
Skinner
dalam mengembangkan teorinya dipengaruhi oleh Pavlov dan Thorndike, lebih-lebih
hukum efek dari Thorndike. Pendekatan Skinner adalah operant conditioning, yang
merupakan penerusan dan perluasan hukum dari Thorndike. Ia mengakui adanya
fenomena conditioning yang klasik dari Pavlov dalam perilaku manusia dan
binatang, tetapi itu tidak dianggap terlalu penting. Minat utamanya, ditujukan
pada perilaku organism yang terkontrol oleh efeknya terhadap lingkungan. Skinner
berpendapat bahwa ilmu yang benar tentng perilaku manusia harus didasarkan pada
fakta empiris yang kuat.
Skinner
mengungkapkan dua tipe tentang belajar yaitu :
- Classical conditioning Pavlov. Tipe ini dikenal
adanya elicting stimuli. Di sini diutamakan apa yang dilakukan terhadap
organisme untuk menimbulkan perubahan tingkah lakunya.
- Operant conditioning yang ditandai dengan keadaan
tidak adanya elicting stimuli dan tingkah laku kontrol dan efeknya atau
pengaruh-pengaruhnya terhadap lingkungan.[4]
2. Pandangan kedua menganggap semua manusia adalah bebas
membuat semua kegiatan.
a. Teori Kognitif
Pada
hakekatnya manusia bebas untuk membuat pilihan dalam setiap situasi, titik paut
kebebasan adalah kesadaran. Tingkah laku manusia adalah ekspresi yang dapay
diamati dan akibat dari pada dunia eksistensi internal yang pada hakekatnya
bersifat abadi.
Pandangan
ini melahirkan
teori kognitif yaitu mempelajari manusia, tingkah laku dan kesadaran dirinya.
Ciri-ciri
teori kognitif adalah :
- Mementingkan apa yang ada pada pelajaran.
- Mementingkan keseluruhan.
- Mementingkan peranan fungsi kognitif.
- Memntingkan keseimbangan dalm diri si pelajar.
- Mementingkan kondisi pada saat itu.
- Mementingkan pembentukn struktur kognitif.
- Dalam pemecahan problemanya ciri khas intringht.
Teori-teori
yang termasuk ke dalam teori kognitif :
1.
Cognitive
Field (Kurt Lewin)
Teori cognitive field
menitikberatkan perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial karena pada
hakikatnya masing-masing individu berada didalam suatu medan kekuatan, yang
bersifat psikologis yang disebut life space. Mencakup perwujudan lingkungan
dimana individu bereaksi, misalnya orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang
dimiliki dan objek material yang dihadapi.
Jadi tingkah laku merupakan hasil
interaksi antar kekuatan, baik yang berasal dari dalam diri individu, seperti
tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun yang berasal dari luar diri
individu, seperti tantangan dan permasalahan yang dihadapi.
2.
Cognitive
Development (Piaget)
Dalam teori ini Piaget memandang
bahwa proses berfikir merupakan aktivitas gradual dari fungsi intelektual,
yaitu dari berfikir kongkrit menuju abstrak. Berarti pengembangan kapasitas
mental memberikan kemampuan baru yang sebelumnya tidak ada.
Jadi, perkembangan kognitif tergantung
pada akomodasi. Oleh karena itu, siswa harus diberikan suatu areal yang belum
diketahui, agar ia dapat belajar. Dengan adanya area baru ini siswa akan
mengadakan usaha-usaha untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang
akan mempermudah perkembangan kognitif.
3.
Teori
Benyamin S. Bloom
Benyamin S. Bloom telah
mengembangkan “taksonomi” untuk domain kognitif. Taksonomi adalah metode untuk
membuat urutan pemikiran dari tahap dasar ke arah yang lebih tinggi dari
kegiatan mental, dengan enam tahap sebagai berikut:
1)
Pengetahuan
(knowledge) ialah kemampuan untuk menghafal, mengingat, atau mengulangi
informasi yang pernah diberikan.
2)
Pemahaman
(comprehension) ialah kemampuan untuk menginterprerasi atau mengulang informasi
dengan menggunakan bahasa sendiri.
3)
Aplikasi
(application) ialah kemampuan menggunakan informasi, teori, dan aturan pada
situasi baru.
4)
Analisis
(analysis) ialah kemampuan mengurai pemikiran yang kompleks, dan mengenai
bagian-bagian serta hubungannya.
5)
Sintesis
(synthesis) ialah kemampuan mengumpulkan komponen yang sama guna membentuk pola
pemikiran yang baru.
6)
Evaluasi
(evaluation) ialah kemampuan membuat pemikiran berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan.[5]
B. Tiga Teori Belajar
1.
Teori
Opera Conditioning
Para
tokoh psikologi di dalamnya termasuk psikologi pendidikan mau tidak mau
terpengaruh dengan dasar-dasar pembentukan ilmu pengetahuan, seperti J.B Watson
dikenal dengan tokoh psikologi yang lebih condong dengan pemikiran epirisme.
Namun ketika sampai pemahaman terhadap model-model psikologi mengenai realitas
yang berkaitan belajar tercatat ada tiga model yang berbeda yakni pandangan
behavioristik didalamnya termasuk conditioning opera diwakili oleh BF. Skinner
sementara model instruksional didalamnya terdapat tokoh kondisi belajar oleh Rober
M.Gagne. (Gredler, 1994:106).
Konditioning Operan dari BF. Skinner
BF. Skinner memandang bahwa: Belajar
adalah perubahan dalam prilaku yang dapat diamati dalam kondisi yang dikontrol
secara baik. Ada tiga syarat terjadinya interaksi antara organisme dan
lingkungannya: ketiga syarat tersebut adalah : (1) saat respons terjadi, (2)
respons itu sendiri, (3) konsekuensi penguatan respons. (Sudjanna, 1991:86).
Keterangan : B = Behavior
F
= Fungsi
S
= Stimulus
Ada enam asumsi yang membentuk
landasan untuk conditioning operan (Gredler, 1994:122). Asumsi tersebut adalah:
1)
Belajar
itu adalah tingkah laku
2)
Perubahan
tingkah laku (belajar)
3)
Hubungan
yang berhukum antara tingkah laku
4)
Data
dari studi experimental tingkah laku
5)
Tingkah
laku organisme secara individu
6)
Dinamika
interakhi organisme dengan lingkungan itu.
Komponen Pembelajaran
Implikasi langsung yang dapat
dipetik dari pemikiran BF. Skinner khususnya untuk menata pembelajaran ada
empat hal yang dapat dilakukan (Soekanto, Winata Putra, 1997:17) yakni:
1)
Tiap-tiap
langkah didalam proses belajar perlu dibuat pendek-pendek, berdasarkan tingkah
laku yang telah pernah dipelajari sebelumnya,
2)
Pada
permulaan belajar perlu ada penguatan atau imbalan, serta perlu ada
pengontrolan secara hati-hati terhadap pemberian penguatan, baik yang bersifat
kontiniu manupun yang tidak,
3)
Penguatan
harus diberikan secepat mungkin begitu terlihat adanya respon yang benar,
4)
Individu
yang belajar perlu diberi kesempatan untuk mengadakan generalisasi dan
diskriminasi stimuli yang diterima karena hal ini akan memperbesar kemungkinan
adanya keberhasilan.
2.
Conditioning
of Learning Robert M. Gagne
Kegiatan
belajar merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan, maka individu
akan memiliki kontak dengan lingkungan secara sempurna apabila lingkungan
dijadikan rangsangan dan ini yang disebut dengan stimulus. Jadi stimulus
pembelajaran akan sangat besar perannya untuk menentukan respon apa yang akan
dikehendaki pada peserta didik. Dari beberapa penelitian yang dilakukan, maka
sampai pada akhirnya Gagne mencoba memberikan satu batasan dengan rumus
belajar.
|
Keterangan: S = Situasi yang memberi stimulus
R
= Respon atau stimulus
--- = Garis yang menghubungkan adalah hubungan
antara stimulus.
Gagne
menetapkan bahwa asas belajar pada seseorang adalah kupasan terhadap berbagai
performance sampai pada keterampilan yang kompleks. Untuk itu asumsinya batasan
belajar merupakan faktor yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan perkembangan
tingkah laku itu merupakan hasil dari efek komulatif dari belajar.
BF.Skinner
dan Robert M.Gagne mewariskan satu teori pembelajaran yang membenarkan bahwa
lingkungan atau stimulus adalah bagian penting untuk menentukan tingkah laku
apa yang akan diminta dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaranyang
dikembangkan oleh keduanya telah membuktikan bahwa belajar adalah sebuah proses
atau interaksi dengan lingkungan.
3.
Teori
Atribusi Bernard Weiner
Bernard
weiner seorang tokoh teori psikologi pendidikan yang menurut beliau bahwa,
apabila siswa telah mendapat informasi tentang apa yang telah dilakukannya (
informasi umpan balik), maka hal itu akan mempengaruhi kegiatan belajar
berikutnya. Informasi umpan balik dapat menjadi nilai positif bila siswa
menggapnya itu adalah pemacu prestasi berikutnya, tetapi bukan tidak mungkin
justru menjadi nilai negative bila siswa menggap ini adalah nasib yang tidak
mungkin dirubah. Bagaimana seorang guru atau perancang pembelajaran memahami
hal ini dengan tujuan agar siswa tetap mencapai hasil belajar yang tetap
optimal?
Teori
atribusi untuk mengembangkan penjelasan dari cara-cara kita menilai orang-orang
secara berlainan. Bergantung pada makna apa yang kita hubungkan kesuatu prilaku
tertentu. Pada dasarnya teori itu menyarankan bahwa, bila kita mengamati
prilaku soal individu kita berusaha menentukan apakah prilaku itu ditimbulkan
secara internal atau secara external.
Dalam
teori atribusi ini mencoba untuk mengerti mengapa seseorang itu memberikan alas
an-alasan sebagai keputusan kepribadi tentang keberhasilan dan kegagalan yang
ia peroleh. Dan dalam teori atribusi ini ada empat penjelasan untuk sukses dan
gagal dalam mencapai prestasi itu : 1)
kemampuan, 2) usaha, 3) tugas yang sulit, 4) keberuntungan akan nasib. Dapat
dijelasakan disini bahwa kemampuan itu tidak sama dengan usaha, dalam hal ini
kemampuan berhubungan dengan stabil, artinya kemampuan siswa dalam belajar akan
stabil selamanya,dan tidak dapat berubah-ubah. Sementara itu usaha dapat
berubah-ubah artinya siswa akan mengalami kadang kala berusha sekuat
tenaga,kadang kala tidak berusaha sama sekali. Kaitannya dengan tugas yang
sulit, maka tugas ini kan berhasil dilakukan bila berusaha dengan keras, dengan
cara itu ia akan memperoleh satu kemampuan yang stabil. Sementara itupula keberuntungan
akan nasib adalah tidak stabil artinya tidak dapat diramalkan.
Implikasi untuk Kegiatan
Pembelajaran
Untuk
teori antribusi ini akan lebih fungsional atau bermanfaat bila para guru dan
perancang pembelajaran memahami benar apa arti motivasi pembalajaran, mengenal
dengan baik psikologi siswa. Dengan cara seperti inilah, maka semua siswa dapat
ditolong, dibina dan dikembangkan mencapai hasil belajar yang optimal.[6]
C. Teori Belajar Untuk Pembelajaran
Masalah
yang dihadapi guru sekarang adalah bagaimana supaya siswa mau belajar. Tanggung
jawab guru adalah membantu siswa belajar. Tujuan pendidikan yang dipilih guru,
posedur plajaran, pengorganisasian kelas, merupakan proses belajar-mengajar.
Semua guru mempunyai pandangan atau teori belajar, sehingga strategi mengajar
mereka sangat terstruktur. Dengan memperhatikan guru-guru yang sedang mengajar
di kelas, kita dapat memperkirakan asumsi dasar mereka tentang proses
belajar-mengajar. Salah satu tujuan pendidikan guru adalah membantu guru-guru
melihat hubungan teori dan praktik.[7]
Bila
seorang pendidik melakukan kegiatan pembelajaran didasari oleh teori yang
tepat, hasil-hasil penelitian terbaru, kemudian bacaan yang memadai, pada
gilirannya ia akan kaya dengan berbagai strategi dan metode pembelajaran di
kelas mau[un di luar kelas, Teori tentunya diharapkan menjadi pegangan
bagaimana ia memandang anak sebagai peserta didik yang mengikuti kegiatan
belajar, ia juga akan menempatkan proses belajar sebagai kegiatan yang memiliki
sistem aturan.[8]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teori belajar adalah
suatu prinsip umum atau suatu kumpulan yang saling berhubungan dan merupakan
penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa
belajar. Secara
garis besar, teori belajar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu: 1) Pandangan pertama yaitu yang menyatakan bahwa manusia adalah
organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus yang terdapat dalam
lingkungan, dan 2) Pandangan
kedua menganggap
semua manusia adalah bebas membuat semua kegiatan.
B.
Saran
Kita sebagai pendidik yang nantinya akan menjadi seorang pendidik
hendaklah mengetahui teori-teori yang berkenaan dengan pembelajaran. Apalagi
dizaman yang sudah serba canggih ini, banyak informasi-informasi yang dapaat
diakses dengan mudah. Maka, hendaklah kita memperdalam pengetahuan mengenai
teori-teori belajar ini.
Daftar
Pustaka
Dr. Mardianto,
M.Pd., Psikologi Pendidikan, (Medan : Perdana Publishing, 2018).
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi
Pendidikan, (Grafindo).
Baharuddin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan,
(Yogyakarta : Ar-Ruz Media, 2010).
Varia Winansih, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Bandung :
Citapustaka Media Perintis, 2008).
Prof. Dr. H. Djaali, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2013).
Komentar
Posting Komentar